bet365 download_Baccarat Cash Network_Online live casino_Fair Baccarat_Bookmaker Ranking

  • 时间:
  • 浏览:0

BoB globBoB global sports betting platformal sports betting platformketBoB global sports betting platformika lamaran kupersiapkan, rasa bimbang kemudian datang. Ya, wajar lah, lamaran adalah gerbang awal persiapan pernikahan. Selayaknya kita tidak bisa mundur lagi ke belakang. Namaku akan sering diperbincangkan, entah yang baik ataupun yang kurang. Aku pun yakin, kebimbangan melanda keluargamu pula. Idealitamu di awal tentang suami mapan dan bukan berpenghasilan pas-pasan pasti jadi berantakan. Harapanmu mendapat imam sholeh dan ahli ibadah lagi-lagi belum kesampaian. Terlintas sebersit pikiran meremehkan. Sampai berpikir, “kok dia sih yang datang?”

Dear Ladies,

Nikah nggak cuma senang-senang menikmati tubuh pasangan secara halal. Nikah nggak hanya semata bercumbu menebar rayu. Komitmen dan tanggungjawab menjadi suami maupun ayah begitu berat. Tak sebanding jika dengan perhitungan transaksional seks yang sesaat. Untuk itu, sangat penting memilih pasangan yang tepat. Bukan istri yang selalu menuntut harta, sehingga sang suami tergiur tahta. Korupsi meraja karena istri belanja. Gaya hidup istri bikin suami dicokok KPK. Akhirnya terkapar di jeruji penjara.

Paling berat dari itu semua adalah ketika membicarakan tentang pesta pernikahan. Orang acapkali menyebutnya resepsi atau syukuran alih-alih sebuah pesta. Padahal sejatinya merupakan pesta yang mewah atau setidaknya mencoba untuk mewah. Gedung puluhan juta biar tamunya banyak. Makanan catering yang paling enak. Dekorasi paling bagus sampai undangan yang sampai ada kalendernya bertahun-tahun ke depan. Beuh. Tau nggak penyebab itu semua terjadi. Ya, benar. Gengsi.

Oke, biar runtut kita bahas dari persiapan awal. Bagi kami, laki-laki memutuskan menikah adalah keputusan untuk mempersempit daya jelajah kami yang memang terbiasa berpetualang. Hal itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Berat sekali konsekuensi yang mesti kami terima dengan keputusan ini. Konsekuensi logis sampai akhir hayat nanti.

Ibumu nantinya cemburu, cintamu lebih besar untuk istrimu. Mertuamu tak pernah luput melihat kekuranganmu. Dua keluarga yang kini rentan memperselisihkan kehadiranmu. Memperebutkan perhatianmu sembari mengumbar komentar tak perlu. Duh, nikah kok gini banget sih.

Mengertilah, banyak sekali alasan kami tidak langsung segera melamarmu. Terlalu banyak pertimbangan yang harus dihitung secara detail. Sesulit bayangan kami akan menyatukan dua keluarga besar yang berbeda karakternya. Serumit ketakutan kami akan hidup di tengah-tengah masyarakat yang hobi berkomentar dan suka mencerca. Ini tak mudah, Sayang.

Sebelum aku memulainya, bolehkah aku bertanya kepadamu? Seperti apa bayangan pernikahan di mata kalian?

Sayangnya, tidak sepenuhnya benar.

Sederhana saja, fitrah manusia dipersatukan. Dan takdir sedang menunaikan tugasnya untuk menyatukan jemari tangan kita. Menyatukan hati dan tubuh kita untuk melahirkan generasi selanjutnya. Kalau sudah seperti itu, kita mau apa? Tinggal jalani saja skenario Tuhan yang sudah Dia rancang sedemikian rupa. Hidup itu pilihan. Dan setiap pilihan mengandung konsekuensi.

Beberapa hari lagi aku akan menikah.

Pasca pernikahan, siapa menjamin hidup kita bakal semenyenangkan seperti dalam angan? Sudah berapa banyak pernikahan hancur dalam beberapa pekan atau bulan. Terkekang aturan, atau sekedar merasa bosan. Bertemu dengan orang yang sama dalam 24 jam tiap hari. Semua kebiasaan baik dan buruknya sudah kamu hapal dalam hati.

Hei, asal kamu tahu, pernikahan nggak semenyenangkan itu. Nggak sedamai seperti bayanganmu. Lupakanlah pikiran semacam itu. Namun, pernikahan merupakan sebuah gerbang untuk proses mendewasa. Komitmen yang akan meningkatkan kualitas iman dan pribadimu. Ketakutan itu bukan seharusnya jadi momok menyeramkan bagi aku dan kamu untuk menghindari prosesi sesakral pernikahan itu. Toh, kamu bisa menghadapinya bersamaku.

Cukup sampai di situ? Oh, maaf. Belum, masih banyak.

Jelang akad, semua seakan dikejar oleh waktu yang begitu singkat. Cincin pernikahan, mahar hingga seserahan harus segera disiapkan. Dan itu mahal men. Mahal. Agama memang menganjurkan bahwa sebaik-baik perempuan adalah yang meminta mahar yang mudah. Namun, sekali lagi demi menjaga nama baik dua keluarga, maka kocek harus dirogoh lebih dalam. Belum seserahan baju, sepatu, perhiasan hingga alat berbagai makanan yang nominal totalnya bisa berjuta-juta bahkan sampai belasan. Maka beruntunglah jika calon istrimu begitu pengertian. Terlebih keluarganya. Kamu harus bersyukur karenanya.

Ungkapan ibu-ibu seperti ini lah yang bikin was was. Seakan mereka adalah raja dan ratu yang layak dilayani dengan paripurna. Padahal, sejatinya ini sekedar syukuran yang seyogyanya dilaksanakan sesuai kemampuan belaka. Nggak perlu dipaksakan. Masa nikah di gedung ratusan juta tapi habis nikah cuman ngontrak sepetak? Daripada bermewah-mewah selayaknya kita lebih sayang rupiah. Percayalah, pasca resepsilah kehidupan yang berat sebenarnya sudah menjelang.

Jelang pernikahan semakin banyak godaan menghadang. Semakin lama makin terlihat banyak kekurangannya dibanding sebelumnya. Dia ternyata manusia biasa saja. Nggak terlalu layak kamu cintai melebihi semua. Nggak terlalu penting untuk memperjuangkannya sedemikian rupa. Kamu bisa memilih wanita yang jauh lebih hebat darinya. Lebih cantik, berpendidikan, cerdas, bahkan menarik secara seksual. Sosok macam itu tiba-tiba berkembang biak semakin pesat jelang hari menyebut akad. Nah, kan. Berat sekali mempertahankan komitmen di masa ini. Aku yakin, kamu juga berpikiran demikian.

Jangan buru-buru menutup halaman ini, baca sampai selesai ya…

Kabar baiknya, nikah itu tuntunan yang wajib ditunaikan jika sudah waktunya. Separuh agama akan tergenap tepat setelah selesainya acara ijab. Amalan manusia sudah dihitung utuh dan penuh. Kekasih sehidup semati pun telah disahkan langit.

Eh kalau nanti bikin hajatan, jangan kaya tempatnya si X ya, makanannya nggak enak. Kehabisan lagi. Malu-maluin…

Aku cinta kamu dan mau hidup bersamamu, sampai ke surga, Sayangku.

Tentu biaya yang dikeluarkan keluarga calon istrimu jauh lebih banyak. Hal itu kadang bukan jadi sebuah hal yang menyenangkan. Melainkan sebuah hutang budi yang harus dibayar. Hutang menafkahi anaknya dengan sebaik-baiknya. Harus rela dibandingkan dengan anak-anak atau menantunya yang lain. Pernikahan memang jadi ajang perbandingan. Siapa yang lebih mapan hingga siapa yang lebih subur rahimnya. Pergulatan emosi yang secara batin begitu memilukan.

Bayangkan seperti ini. Kondisimu adalah mengundang tamu dengan jumlah terbatas. Ketika kamu mengundang teman dekatmu, teman lain akan ngomel kenapa nggak diundang. Tetangga dekat diundang, tetangga yang lain ikutan protes. Kalau diundang pun, jangankan menyumbang. Belum tentu mereka sudi datang. Belum kerabat dekat yang sengaja nggak datang karena tidak ‘ditembung’ secara langsung. Betapa rumit sekali kondisi sosial masyarakat Indonesia.

Buang semua angan bahwa nikah adalah pelarian dari setiap masalah. Seolah dengan menikah, semuanya selesai. Suamimu yang harus menanggung semua. Sayang, kamu justru akan menghadapi problema yang jauh lebih rumit dan tak ada ujungnya setelah menikah nanti. Itu niscaya.

Jadi, nggak usah takut menikah ya, Sayang. Kita hadapi semuanya bersama. Insyaallah semua akan baik-baik saja.

Oh iya, ada satu alasan bagiku untuk tidak peduli dengan bayangan kelam pernikahan kita nanti. Sebuah alasan sederhana.

Bayangan pernikahan biasanya memang terlampau hiperbolis. Imaji pernikahan seringkali terasa glamour, bahagia, hingga serasa kenikmatan surgawi. Hal ini kadang jadi angan yang memabukkan bagi sebagian besar anak muda. Banyak anggapan bahwa pernikahan jadi sebuah hal menyenangkan. Sebuah prosesi yang bakal melepaskan dirinya dari berbagai persoalan. Bahkan, cewek-cewek yang sedang ada masalah di kerjaan atau asmara sering ngebet nikah agar masalahnya selesai. Benarkah demikian?

Masihkah layak pernikahan dijadikan pelarian dari masalah saat masih lajang? Sudah tahu kan jawabannya? Menurutku sih, tidak…